Hardyansein's Wordpress

My Journey in Programming World

Cafe Remang-Remang

Lokasi : Dari Jalan Embong Ploso, Cafe Tomodachi, lurus saja ke arah Utara sampai Pojok. Anda akan melewati PMI jika arahnya benar.

Biasa kalau malam hari , banyak yang mendirikan tenda yang cukup tertutup, dan menyetel musik. Pertama kali dilihat serupa dengan tenda pengungsian. Setelah masuk ke dalam, ternyata mereka menamakan itu cafe.

Di tempat ini kita makan secara lesehan, jadi alas kaki harap dilepas. Karena namanya cafe, maka menunya pun menu cafe : Roti bakar, Nasi goreng, Mie, Es Jeruk, dll. Harganya pun lumayan, walau masih terjangkau oleh kantong anak kos.

Bagi yang masih jomblo, di sini adalah tempatnya para pasangan muda mudi melakukan hal-hal yang ga bisa dilakukan di depan publik misal, tidur di pangkuan pasangan, peluk-pelukan, or dll ( ga terlalu keliatan karena di dalam ga ada ada lampu , hanya lampu kota dari kejauhan dan cahaya bintang yang jadi penerang kala itu.. :p )
Terakhir makan di situ , Nasi Goreng + Es teh : Rp 10.000,- . Cukup mahal bukan?

August 14, 2008 Posted by | Travelling, Wisata Kuliner | , | Leave a Comment

Training Di Surabaya : D 2nd

Tomorrow I’m will be having my first exam. So I’ll just do some little maintenance here. What story do I have today? Just trivial stories :

  • Surabaya’s streets are such killers. So hard to cross over the road. ( Foolish me for I didn’t see the crossing bridge). Just for notice, don’t cross on your on pleasure because it may cost your life ( the vehicles have no mercy upon pedestrians)
  • A rumor has it that I’ll be attending my training session for 40 office days, and roughly about 3 month and few days. After that I’ll be crossing to Bali and continuing my On Job Training there. So maybe I’ll have no chance at all to come back to Jakarta. ( Maybe I’ll take my one week holiday on Lebaran to visit my family)
  • From Embong Ploso, where I stay as tenant, if you walk straightly toward PMI and on, you ‘ll find few ( 3 – 4) what so called Cafe ( in my opinion it is more like warung remang-remang), places where couple can have a bit more privacy they can get in open public places.
  • Newsflash on Nasi Pecel Fans because Nasi Pecel tent on across of Scomptec building is proven unhygienic. Some people say they spot a dead cockroach beneath pile of fried eggs. Watch your stomach.
  • My Mobile Phone is beeping and blinking all the time. I guess it’s the battery. Maybe I should replace it with a new one, or maybe I replace the phone instead.

That’s all for some stories for today. Just two day attending training , but felt like a week already. I’m getting homesick bit by bit. Time for rest. Thank for reading. Gute Nacht

August 12, 2008 Posted by | Journal, Travelling, Wisata Kuliner | , , , , , | Leave a Comment

Training di Surabaya : D 1st part 1

Hari ini tanggal 11 Agustus 2008, hari pertama training Bali Camp batch 12 di Scomptec. Hari yang lumayan menegangkan, karena akan bertemu lagi dengan JAVA setelah sekian lama tidak bersua ( Hoek – padahal aslinya sih penasaran sama peserta training wanita yang berjumlah 2 orang). Dengan langkah tegap, hati bersih, pikiran segar, dan perut lapar, aku pun menuju Gedung Scomptec di pagi hari jam 7.40.

Wisata Kuliner

Hari masih pagi, tapi perut sudah mulai rewel. Oleh karena itu dalam perjalanan menuju Scomptec, aku mampir ke warung pecel langganan ku ( baru 3 hari di surabaya udah ada langganan). Sesampainya di warung pecel, ternyata sang perut sudah bosan dengan pecel ( ya iya lah, dari kemarin makan pecel terus seharian ). Akhirnya aku memesan indomie soto ( jauh-jauh ke surabaya buat makan indomie , omg). Setelah sepiring indomie kuah soto yang ga begitu maknyus di lidah ( maaf pak bondan, saya pinjam dulu kata-katanya ) tapi maknyus di kantong, saya bergegas menuju Scomptec dengan langkah tegap, perut kenyang, badan keringatan, dan kantong yang sehat.

Indomie Soto Warung Pecel :

  • Letaknya di sebelah Gedung car audio and accessories ( warna pink tua)
  • Penjualnya seorang ibu dan anak perempuannya
  • Sepiring Soto + kuah + sayur-sayuran + teh manis hangat : Rp 3.000,-
  • Bikin orang yang makan jadi keringatan seperti banjir

Pada jam istirahat training ( 12.00 GMT+7) perut kembali merengek, padahal rencananya sehari makan 2 kali untuk menghemat budget ( secara sigma belum transfer uang jajan ke rekening, jadi ga berani jajan-jajan dulu). Akhirnya aku mengalah pada sang perut, dan memulai hunting-hunting makanan di sekitar Scomptec. Ternyata di seberang parkiran Scomptec ada tenda-tenda makanan, mulai dari Warung Soto, Warung Pecel ( Pecel lagi ??!!!), dan Warung Nasi Goreng. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya pilihan jatuh pada Warung Pecel ( lho kok pecel lagi).

Nasi Pecel Warung Pecel depan Scomptec:

  • Lokasi : Seberang Parkiran Gedung Scomptec
  • Penjual : Seorang bapak dan istrinya ( mungkin )
  • Kalau jam makan siang biasanya rame banget
  • Nasi Pecel + Lauk Telur Dadar + Teh Manis Hangat di bandrol Rp 5.000,- ( Harga anak kos banget)
  • Rasa ga maknyus-maknyus banget tapi harganya lumayan

Pulang ke kos setelah jam training selesai, perut kembali lapar ( nih laper apa doyan sih ). Setelah mandi aku pun mengajak teman kos ( ternyata anggota training batch 12 ) untuk jalan-jalan cari makan. Kami berjalan berdua menyusuri kegelapan ( sumpah, bukan kasus ryan lho ) , hingga akhirnya sampai di depan PMI. Di depan gedung PMI ada 3 mas-mas yang berjualan di kegelapan, ada es kelapa, mie ayam dan nasi goreng. Malam-malam begini ga mungkin makan es kelapa, bisa bikin perut mules. Mie ayam juga kayanya udah bengkak dan ayamnya dah ga segar. Akhirnya dengan terpaksa memilih nasi goreng karena sudah malas berputar-putar.

Nasi Goreng Depan PMI

  • Lokasi : Depan Gedung PMI, dari Embong Ploso no 25 lurus terus.
  • Penjual : Mas-mas yang pake baju garis-garis ( mukanya ga gitu kelihatan karena gelap)
  • Rasa : ya biasa lah, masih lebih enak pecel ( pecel lagi…)
  • Harga : Nasi Goreng + Ayam sedikit + 2 butir Cabe rawit : Rp 5.000,- ( ga dapat minum, jadi mesti sering-sering nelan ludah biar ga dehidrasi)

August 11, 2008 Posted by | Journal, Travelling, Wisata Kuliner | , , , | Leave a Comment

Training di Surabaya : D-1

Hari ini tanggal 10 Agustus 2008 , hari kedua di kos jalan Embong Ploso no 25. Besok sudah dimulai training dari Sigma di Gedung Scomptec, namun teman-teman seperjuanganku belum juga menunjukkan batang-batangnya. Aku sudah mulai menyesuaikan diri dengan udara di surabaya yang katanya panas ( masih lebih panas di Jakarta menurutku), dan kemarin sempat masuk angin dan meriang.

Jam 10.00 sesudah mandi pun langsung rasa lapar menyerang. Akhirnya aku pun berkeliling-keliling mencari warung makanan yang murah meriah ( sasaran ku sih tempat makan kemarin yang harganya hanya 6500). Setelah berjalan mondar – mandir ( ternyata tempat makan kemaren belum buka) aku jadi tambah lapar dan akhirnya memutuskan untuk makan di warung pecel.

Warung pecel

Di warung itu aku memesan nasi pecel dengan tambahan ayam dan teh manis hangat plus kerupuk. Tadinya aku mengira pecel yang dimaksud adalah pecel lele, tapi ternyata nasi dengan bumbu kacang yang lumayan pedas. Nasi yang diberikan pun cukup banyak, dan makanannya lumayan higienis, karena sampai sekarang perutku belum menjerit kesakitan. Ketika membayar makananku pun aku kembali kaget karena harganya yang murah.

Nasi pecel tadi terdiri atas :

  • Nasi sepiring penuh
  • Bumbu kacang yang pedas
  • Tempe dan Tahu
  • Sepotong kecil ayam ( bisa pilih antara telur , pindang, atau ayam)
  • Kerupuk
  • dan tambahan Teh Manis Hangat ( Tehnya kental dan enak banget diminum di malam hari)

Total jendral biaya yang dikeluarkan : Rp 6.000,-

Lokasi Warung ini ada di sebelah Gedung Audio Mobil ( Gedung Warna Pink Tua tidak jauh dari jalan Scomptec), di jalan Kayun, surabaya.

August 10, 2008 Posted by | Journal, Travelling | , | 6 Comments

Training di Surabaya : D-2

Surabaya , the City of Shark and Croc

Hari ini tanggal 9 Agustus 2008, Jam 6.30 Kereta Bima sampai di stasiun Gubeng , Surabaya. Seturunnya dari kereta, ada pria paruh bayar berpakaian rapi menawarkan jasa taksi. Pria itu memakai tag “SGU” ( yang kukira singkatan dari Swiss German University dan ternyata bukan ) , tinggi sekitar 150 cm, berumur kira-kira 50 tahun. Awalnya dia menetapkan kan tarif 40rb untuk ke Embong Ploso No.25, namun setelah tawar menawar yang seru ( baca: terbengong-bengong karena ngantuk dan harga yang diajukan ) akhirnya si bapak menurunkan tarf menjadi 30rb.

The “Taxi”

Akhirnya aku ikut si bapak walau merasa tarif 30 rb termasuk mahal ( jangan kaya orang susah deh ). Sesampainya di parkiran, bagai disambar petir di siang bolong( ga segitunya sih) , alangkah kagetnya melihat taksiyang dimaksud tidak memiliki jambul( tulisan “Taxi” di atas kap) dan ukurannya melebihi taksi normal. “Taksi” tersebut merupakan sebuah mobil Carry yang telah dimodifikasi sedemikian rupa ( ditempeli stiker SGU doank yang katanya lambang koperasi usaha taksi) menjadi sebuah taksi borongan.

Karena sudah terlanjur sepakat dengan si bapak, akhirnya aku ikut si bapak jalan-jalan menuju Embong Ploso. Dengan tangan-tangannya yang sudah berpengalaman , si bapak mengayuh sang taksi menuju Embong Ploso no 25. Sesampainya di tujuan ( di sebelah kafe Tomodachi ) si bapak pun menerima bayaran pertamanya untuk hari ini.

Embong Ploso no 25

Aku segera mencari bu Atik untuk menanyakan nasib kamar yang kupesan. Katanya masih ada 3 kamar kosong. Setelah menimbang-nimbang dengan masak-masak, akhirnya aku mengambil satu kamar seharga 750rb / bulan.

Fasilitas kamar itu adalah :

  • Ruangan berukuran 5×5 meter,
  • 2 buah kasur (lengkap dengan sprei , bantal dan guling) ,
  • sebuah lemari(1×2 meter),
  • sebuah meja
  • sebuah kursi
  • sebuah kipas angin
  • 2 buah tirai
  • dan tak lupa sebuah kunci kamar

Kamar ini diperuntukkan menampung 2 orang, namun karena ingin mendapat privasi lebih dan ketenangan, maka aku memutuskan untuk menyewa sendiri kamar kos ini.

Sekilas mengenai Kos di jalan Embong Ploso no 25 ini

  • Letaknya di samping kafe Tomodachi
  • Jarak dari Gedung Scomptec hanya sekitar 2-3 menit berjalan kaki
  • Jarak dari ATM BCA sekitar 4-5 menit berjalan kaki ( 5 rb rupiah jika naik becak)
  • Kamar yang masih kosong ada 2 ( sampai saat ini )
  • Air minum dan air mandi gratis
  • Dapet cuci max 2 stel per hari
  • Sofa dan TV di ruang tamu

Rekapitulasi Biaya Pada hari pertama di Surabaya

  • Taxi ( dengan harga penglaris ) dari Gubeng – Embong ploso : Rp 30.000,-
  • Kost ( ukuran 2 orang ) : Rp 750.000,-
  • Becak (untuk jarak 4-5 menit berjalan kaki) : Rp. 5.000,-
  • Makan siang ( Nasi + Kangkung + Teri + Sayur + Teh Manis ) : Rp 6.500,-
  • Pulsa Three nominal 30rb : Rp 31.000,-
  • Air minum Kos : gratis

August 10, 2008 Posted by | Journal, Travelling | , , | 7 Comments

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.